teks

selamat datang di blog dedy firdaus

Jumat, 09 Maret 2012

21st Century Breakdown

21st Century Breakdown adalah album studio kedelapan karya band punk rock Amerika Green Day. Ini adalah album kedua mereka yang menggunakan gaya rock opera, sama seperti American Idiot. Album ini juga adalah yang album pertama mereka yang diproduseri oleh Butch Vig. Green Day memulai penggarapan album ini pada Januari 2006. Sekitar 45 lagu telah ditulis oleh vokalis dan gitaris Billie Joe Armstrong sampai Oktober 2007, tetapi Green Day tidak segera memasuki studio untuk mulai bekerja dengan Butch Vig hingga Januari 2008. Proses penggarapan album ini secara total berlangsung selama tiga tahun dan digarap di empat studio rekaman di California hingga selesai pada April 2009. 21st Century Breakdown dirilis pada 15 Mei 2009 melalui Reprise Records. Hingga Desember 2010, 21st Century Breakdown telah terjual sebanyak 1.005.000 copy di Amerika Serikat[11] dan lebih dari 3,5 juta di seluruh dunia.
Billie Joe menggambarkan album ini sebagai "gambaran era yang sedang kita jalani, dimana kita sering mencoba memahami manipulasi sepihak yang terjadi disekitar kita, apakah itu oleh pemerintahan, media, penganut religi fanatik, ataupun kekuasaan dalam bentuk apapun."[12] Singel dari album seperti "Know Your Enemy" dan "21 Guns" mengindikasikan gambaran tema album tentang kemarahan atas politik dunia saat ini.

Penulisan dan Rekaman

Green Day memulai menulis materi lagu untuk album baru pada Januari 2006 setelah melakukan tour secara extansif di tahun 2005.[13] Pada saat itu, Billie Joe menyatakan, "Kami memulai dengan berdiam diri, dan itulah bagaimana cara kami mencari inspirasi untuk "menemukan" album baru."[14] Green Day tidak memberikan info terperinci tentang proses penulisan ataupun perekaman, hingga pada Oktober 2007 Billie Joe dalam wawancara dengan Rolling Stone mengatakan bahwa dia telah menulis sekitar 45 lagu.[15][16] Mereka mengerjakan tahap konseptual di studio latihan mereka di Oakland, California. Sedikit yang diketahui tentang tema atau gaya yang akan dikeluarkan pada labum mereka, tetapi Billie Joe menekankan, "Aku ingin menggali ke diriki yang sebenarnya dan apa yang kurasakan saat ini diusiaku yang pertengahan." Dia menambahkan bahwa dari 45 lagu tersebut kebanyakan ditulis dengan dasar piano dan bukan gitar.[15]
Green Day memulai proses rekaman 21st Century Breakdown pada Januari 2008.[17] Green Day juga mengkonfirmasi bahwa mereka akan bekerja dengan produser Butch Vig.[18] Seluruh album digarap bersama Bitch Vig selama 2008 sampai awal 2009 di empat lokasi di California: Ocean Way Recording di Hollywood, Studio 880 di Oakland, Jel Studios di Newport Beach, dan Costa Mesa Studios di Costa Mesa.[19] Selama di Hollywood, mereka membeli sebuah fonograf murah dari Amoeba Music dan mendengarkan banyak rekaman piringan hitam untuk mencari inspirasi, seperti album karya The Beat dan The Plimsouls.[20] Billie Joe menyebutkan inspirasi musik datang dari Ray Davies karya The Kinks, S.F. Sorrow karya The Pretty Things, album The Doors karya The Doors, dan Bat Out of Hell karya Meat Loaf.[20] Drummer Tre Cool menambahkan mereka juga mendapat pengaruh dari Eddie Cochran dan The Creation pada lagu-lagu yang mereka tulis.[20]
Produser Butch Vig mengatakan bahwa frustasi sering mengakibatkan kendala dan penundaan dalam proses rekaman 21st Century Breakdown.[16] Hingga akhirnya sentuhan akhir untuk album selesai pada awal April 2009.[21]

Tema dan Komposisi

21st Century Breakdown melanjutkan gaya rock opera seperti pendahulunya, American Idiot.[22] Album ini terbagi dalam tiga bagian: "Heroes and Cons", "Charlatans and Saints", dan "Horseshoes and Handgrenades" dan mengambil latar di Detroit, Michigan.[23] Album ini menceritakan kisah tentang pasangan muda bernama Christian dan Gloria berusaha melalui tantangan hidup di Amerika sehubungan jabatan kedua presiden George W. Bush.[24] Mike Dirnt telah membandingkan hubungan antara lagu-lagu dalam album mereka dengan yang ada di Born to Run karya Bruce Springsteen, sembari berkata bahwa tema dalam album ini memang tidak terlalu terjalin erat seperti sebuah album konsep, tetapi lagu-lagu di album ini masih saling berkaitan satu sama lain.[25] Kebanyakan dari tema dan lirik dalam album ini digambarkan dari kehidupan pribadi Billie Joe Armstrong dan dia juga menulis lirik dengan sudut pandang orang pertama tentang rasa ketertertinggalan dan rasa ingin bebas di lagu seperti "Before the Lobotomy", "Christian's Inferno", dan "Peacemaker". Rolling Stone mencatat bahwa album ini adalah "album paling jujur dan personal yang pernah ditulis oleh Billie Joe".[20]
Lirik pembuka album yang berbunyi "Born into Nixon, I was raised in hell" (arti: "Dilahirkan di (era) Nixon, aku dibesarkan di neraka") mengacu pada tahun kelahiran Billie Joe yaitu 1972 dan masa-masa sulit selama masa kecilnya, sementara lirik "We are the class of '13" (arti: "Kami adalah angkatan '13") mengacu pada anak sulung Billie, Joseph, yang akan lulus dari SMA pada 2013.[20] Mike Dirnt percaya bahwa "Last of the American Girls" adalah tentang istri Billie, Adrienne, yang dia klaim setia pada kepercayaannya dan dengan tegas akan mempertahankan itu.[20] Billie menyebutkan "ketidakyakinan" semasa kecilnya adalah inti dari yang ingin ia utarakan pada lagu 21st Century Breakdown, sesuai fakta bahwa dia dibesarkan bersama lima orang kakaknya pasca kematian ayahnya, sementara ibu mereka bekerja mati-matian sebagai seorang pelayan.[20] Lalu lagu "East Jesus Nowhere" menyindir para fundamentalis agama dan ditulis setelah Billie menghadiri gereja dimana seorang bayi temannya sedang dibaptis.[20]
Dari segi musik, 21st Century Breakdown mirip dengan gaya rock opera dari American Idiot,[6][26] tetapi banyak para pengamat musik berpendapat bahwa suara Green Day telah berubah dalam lima tahun sejak album terakhir mereka dengan memasukkan pengaruh baru seperti menjadi lebih berat, pop-rock yang lebih keras and unsur stadium-rock dalam skala yang sangat berani.[27][28] Rob Sheffield dari majalah Rolling Stone menyebutkan bahwa balada dalam album ini adalah karya Green Day dengan budibahasa terbaik mereka; dia menyatakan bahwa mereka "mengkombinasikan punk-thrash dengan kesenangan baru mereka terhadap kebesaran classic-rock".[6] MTV membandingkan materi album dengan musisi rock klasik seperti The Who,[29] sementara Spin mengatakan lagu-lagu dalam album ini sebagai "lagu paling hebat dari Green Day".[30] Tre Cool berkata, "Sangat penting bagi kami bahwa kami masih dilihat sebagai band punk, karena itu seperti kepercayaan kami, pengetahuan tertinggi kami."[20] Billie sendiri juga mengatakan, "Dasarku masihlah punk rock. Aku suka menggambar sebuah gambar acak. Aku bisa mendapatkan sesuatu yang mengangkat semangatku dari lagu-lagu terburuk yang mungkin bisa kau nyanyikan. Itu sudah jadi DNA-ku."[20]